Bagian Empat
Bentakan lelaki berbaju kotak-kotak tersebut membuat semua mata penumpang metro tertuju kepada wanita bercadar putih. Ia lalu mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan dengan tidak memberikan duduk kepada tiga orang bule tersebut bukan karena mereka tidak tahu tata krama atau sopan santun. Tapi hanya karena mereka merasa dendam dan sakit hati atas tindakan penguasa Amerika yang suka melakukan tindakan kekerasan di mana-mana. Tindakan mereka adalah sedikit pelampiasan rasa kesal mereka. Kemudian pemuda berbaju kotak-kotak itu menambahkan bahwa dengan meminta maaf kepada wanita bule tersebut atas nama saudara seiman, seperti yang telah dilakukan wanita bercadar putih tersebut sama juga dengan penghianatan.
Cercaan dan hinaan terus diterima oleh wanita bercadar. Bahkan dia diserang oleh tiga orang pemuda sekaligus. Termasuk juga pemuda Arab yang baru berkenalan dengan Fahri di dalam metro tadi. Fahri mendengarkan semua hinaan itu dengan perasaan hati yang tidak nyaman sama sekali. Karena apa yang telah dilakukan oleh perempuan bercadar itu sama sekali bukan sebuah kesalahan, melainkan sebuah tindakan yang seharusnya dilakukan oleh semua orang. Sampai akhirnya Fahri tidak dapat menahan rasa marah yang ada dalam dirinya saat salah seorang pemuda menyebut wanita bercadar itu sebagai perempuan 'pelacur'. Hal ini sudah melewati batas dan harus dihentikan. Fahri lalu berjalan mendekati para pemuda yang sedang mengerumuni perempuan bercadar tersebut.
Fahri mengajak semua penumpang yang ada didalam metro untuk beristiqfar, menyebut nama Allah. Cara ini adalah cara ampuh yang biasa digunakan penduduk Mesir untuk meredam amarah dan emosi seseorang. Ajakan Fahri pun disambut oleh semua penumpang yang berada berdekatan dengannya. Para pemuda yang sedang emosi itu pun melakukan hal yang sama. Kemudian Fahri menegur seorang pemuda yang mengatakan perempuan bercadar sebagai wanita pelacur. Namun, pemuda setengah baya itu malah marah dan menghardik Fahri untuk tidak ikut campur urusan orang Mesir. Ia marah karena Fahri kelihatannya membela wanita bercadar putih. Terlebih lagi ia tahu bahwa Fahri bukan orang Mesir, jadi ia memerintahkan Fahri untuk mengurus saja urusannya sendiri jangan campuri urusan orang Mesir. Fahri kembali menagajak beristiqfar.
Dan metro pun terus melaju kencang.
Rabu, 19 November 2008
ReSeNsI nOvEL AyAT-aYaT CiNtA
Diposting oleh
c Lady's Cuantix
di
21.44
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Link Alternatif
guest boOk
Blog Archive
-
▼
2008
(27)
-
▼
November
(27)
- Tanda-tanda Awal Jatuh Cinta
- Cerpen Cinta : Lelaki Yang Kucinta
- Cerpen Cinta: Cinta Yang Hilang
- Cerpen Sedih - Senyuman Terakhir
- Kekuatan Api Cinta
- Tip Kekasih - Mengeratkan Hubungan Cinta
- Berdosakah Aku Bercinta?
- Quiz Test "Kepribadian"
- Cinta & Logika
- Dunia Ku Yang Kecil
- Penggalan Cerita Hati
- Memori: Ibunda
- "Uniknya Asmara" "Ciat...,uhgt..., akh..., ciat......
- cErPeN
- cErPeN
- ReSeNsI nOvEL AyAT-aYaT CiNtA
- rEfLeKSi
- Untuk MuMata itu indahTeduh damai bertahtaTiada ta...
- pUiSi
- Puisi: Cermin Kalbu
- Puisi: Hati Yang Berahasia
- Puisi: Buku Hati Bunda
- Puisi: Karena Ku Wanita
- Refleksi: Cermin dan Bayangan Diri
- Puisi: Tak Ingin Berubah Nyata
- sELeDrI
- bUNgA EidELwIS
-
▼
November
(27)
0 komentar:
Posting Komentar