Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan,
walaupun mereka telah dikecewakan.
Kepada mereka yang masih percaya,
walaupun mereka telah dikhianati.
Kepada mereka yang masih ingin mencintai,
walaupun mereka telah disakiti sebelumnya
dan Kepada mereka yang mempunyai keberanian
dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.

Rabu, 19 November 2008

cErPeN

"Ketulusan Seorang Rian"

Malam belum beranjak, pagi juga baru mulai menampakkan wujudnya. Minggu pagi yang cerah dan sunyi. Belum banyak kelihatan aktivitas masyarakat Medan pagi itu. Orang-orang masih banyak yang bergelut dengan mimpi mereka, mendengkur di balik selimut, dan bermalas-malasan untuk memulia hari. Walau begitu, kebanyakan muslim sudah memulai hari mereka, setelah kumandang adzan subuh di awal matahari terbit membangunkan mereka untuk melaksanakan kewajiban subuh, ‘menyapa’ yang khaliq.

Kesibukan sudah terlihat jelas di kediaman Buk Zaenab. Harumnya nasi panas dan aroma ikan goreng sudsh tercium dari dapur.
“Rey, bangun! Subuh hampir habis. Apa tidak kuliah hari ini? Nanti telat.”
“Iya mak! Udah bangun dari tadi. Ini lagi nyusun buku pelajaran.”

Namaku Rey, mahasiswa semester akhir di sebuah perguruan tinggi swasta di Medan. Sebenarnya aku bukan asli orang Medan. Keluarga ku pindah kemari ketika aku duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Ayah ku sudah meninggal dunia sejak aku duduk di bangku sekolah menengah atas. Sekarang aku hanya tinggal dengan mamak, panggilan sayang ku untuk bunda, dan mamak pula lah satu-satunya yang memenuhi kebutuhan rumahtangga kami. Aku ingin membantu tapi tidak pernah di izinkan oleh mamak. Aku hanya boleh sekolah dan sekolah tanpa boleh tau darimana biayanya.

Pagi ini adalah hari pertama aku masuk kuliah di tahun terakhir ku, setelah libur semester yang cukup lama. Ups! Hari inikan hari Minggu, kuliah darimana . Aduh mamak pasti lupa karena ingin aku cepat lulus.
“Mak? Hari ini Minggukan?”
“Iya.....ya! Inikan Minggu, mamak lupa. Maaf Rey, mungkin karena kamu liburnya sudah terlalu lam sih.”
“Iya. Rey juga ingin cepat masuk kuliah mak, biar cepat tamat. Jadi Rey bisa mengurangi beban mamak.”
“Rey kamu itu bukan beban, tapi hidup mamak.”
“Iya, Rey tau. Karena Rey dah bangun, apa yang bisa Rey bantu mak?”
“Ya kalau gitu bantu mamak goreng dagangan ya, biar cepat selesai. Kalau cepat selesai kan bisa berangkat cepat.”
“Oke mother. I’ll do it!”
“Aduh gayanya yang mahasiswa itu! Pakek Inggris segala.”
“Harus gaya kan? Walau anak tukang gorengan, masih bisa kuliah. Harus bangga lah mak.”
“Udah goreng sana. Ngobrol melulu kapan siapnya.”
“Oke!”

Senin pagi itu akhirnya kuliah ku dimulai. Kumasuki gerbang kampus dengan hati riang dan penuh kerinduan. Apa Rian datang ya? Bisik ku dalam hati sambil sedikit berharap. Belum banyak mahasiswa lain yang datang, karena memang masih terlalu pagi. Masih terasa lezatnya ikan goreng yang dimasak mamak untuk sarapan pagi tadi.

Satu per satu sudah mulai kelihatan keramaian yang hampir 4 tahun belakangan ini menemani hari-hari ku, dan terasa semakin indah sejak wajah Rian sudah mengusik mimpi malam ku.
“Rian terlalu kaya dan ganteng buat mu Rey. Jangan ngimpi. Nanti saat tersadar akan terasa sakit.” Nasehat mamak yang selalu aku ingat.
“Tapi Rian kan suka cewek pinter, dan Rey bisa dibilang begitu?”
“Jangan terlalu percaya diri.”
“Tapi kagumkan enggak salah mak?”
“Iya, tapi tidak boleh terlalu nanti ganggu belajarmu.”
“Insya Allah enggak mak.”
“Bagus. Itu baru anak mamak.”
Mamak memang teman sejati buat ku yang selalu mengerti apa yang ada di hatiku.

“Rey!” Teriak Wulan dari arah belakang menyadarkan ku dari lamunan.
“Makin cantik aja.”
“Thanks.”
“Kemana aja liburan kemarin? Aku ke Jakarta, kerumah paman Anwar.”
“Aku enggak kemana-mana. Hanya di rumah, bantu mamak dagang dan belajar.”
“Ya ampun Rey, liburan juga belajar? Kapan sih seoarang Rey itu tidak memikirkan belajar?”
“Entar kalau seoarng Wulan sudah bisa berhenti ngemil.” Kami pun tertawa dengan canda pagi itu.Wulan adalah teman ku yang berbadan ‘serbul’ or ‘serba bulat’. Dia sukanya ngemil apa aja. Tapi walau begitu dia adalah teman terbaikku.
“Rey ke kelas yuk. Rian ada tadi di kelas sebelah tuh.”
“Rian? Palingan dia uda lupa ama aku ya Lan.”
“Mana aku tau. Nanti coba aja ditanya.”
“Ada aja kau! Mana berani aku.”
“Ya udah, ke kelas aja yuk.”
“Ya deh!”

Wulan benar, Rian memang ada di kelas sebelah. Dia tetap aja ganteng dengan kacamata minusnya. Walau kami satu angkatan tapi Rian lebih tua dari ku usianya. Ia harus menunda kuliahnya karena alasan kesibukan. Rian sama sekali tidak melihat apalagi menegurku. Ada sedikit sedih dan kecewa di hati terselip. Sadar Rey, dewa cinta masih jauh, bisik ku menghibur diri.

Hari-hari di kampus masih seperti dulu. Semua berjalan seperti apa adanya. Belajar, diskusi, tugas harian dan bulanan, lalu ujian. Walau semuanya tidak berubah, ada satu yang berubah. Rian belakngan ini mau menegurku. Ada apa ini? Apa matahari sudah mulai terbit dari barat? Aku bertanya-tanya dengan bingung tapi senang. Tapi kalau aku ingat nasehat mamak untuk tidak berharap banyak terhadap Rian, aku kembali sedih.

Ujian akhirku semakin dekat, dan aku juga sudah mulai mengerjakan skripsi ku. Jadi aku tidak ada waktu untuk memikirkan masalah hati ini. Siang dan malam mamak selalu menemani ku belajar kalau ia sedang tidak banyak pekerjaan. Membuatkan ku teh atau memberi ku gorengan sisa dagangan. Tinggal satu minggu lagi aku akan mengahadapi ujian akhir.

Malam itu hujan turun dengan derasnya, tapi karena malam minggu jalanan depan rumahku tetap aja ramai. Seperti malam minggu yang sudah-sudah, aku hanya di rumah dan lagi-lagi belajar. Terdengar suara kendaraan bermotor berhenti di depan rumahku. Siapa ya yang datang? Pikirku dalam hati. Kami sudah lama tidak kedatangan tamu. Tamu yang terakhir datang paling Wulan.

“Rey coba liat siapa yang datang? Mamak lagi di dapur.”
“Iya mak.” Suara salam pun terdengar dari balik pintu. Aneh suara itu tidak asing bagi ku. Tapi tidak mungkin dia.
“Assalamu’alaikum.” Kembali terdengar suara dari balik pintu.
“Waalaikumsalam. Siapa ya?”
“Ini saya, Rian.”
Rian apa tidak salah? Hatiku berdegup kencang.
“Rian siapa ya?”
“Rian Nugraha.”
Itu dia, aku tidak salah
“Sebentar.” Bukannya membuka pintu, aku malah lari ke dapur menemui mamak.
“Mak Rian datang. Kayak mana ya mak? Buka apa enggak ya? Rey malu dan belum mau ketemu dia. Rey belum siap. Rey....Rey.....Rey.....”
“Rey berhenti, tenangkan diri dulu. Kalau memang Rian yang datang kenapa harus bingung. Harusnyakan senang. Sana buka pintunya. Kasian kehujanan, nanti bisa sakit dia.”
“Baik mak.”
“Gitu dong, itu baru Rey, dan satu lagi Rey, kamu dah kelihatan cantik kok. Jangan gugup ya.”
Mamak enak saja bilang jangan gugup, tapi Rey mana bisa. Soalnya Rian ‘gitu lho’. Aku pun berjalan ke arah pintu sambil tetap gugup dan dengan hati yang berpacu semakin kencang.
“Malam Rey.” Suara Rian terdengar begitu lembut.
“Malam juga. Dari mana.......mau kemana......? eh........eh.....eh...
“Boleh masuk? Di luar dingin.”
“Oh ya, maaf ya.”

Suasana pun hening, tiada sepatah kata pun terucap dari mulut seorang Rey yang biasanya tidak pernah berhenti berkicau, kayak burung aja. Dari arah dapur terdengar suara mamak memecahkan keheningan.

“Siapa tamunya Rey? Jangan lupa buatkan teh panas. Harinyakan dingin.”
“Iya mak. Sebentar ya Rian. Saya buat minuman dulu.” Di depan pintu dapur, rey berpapasan dengan mamak.
“Oh ada nak Rian toh. Apa kabar? Saya ibunya Rey. Tapi Rey tidak pernah panggil ibu, ia panggil saya mamak. Maklum Rey anak kampung.”
“Tidak apa-apa buk eh mak.”
“Silahkan duduk nak Rian. Maafkan Rey karena terlalu lama membukakan pintu. Nak Rian jadi kehujanan.”
“Tidak apa-apa buk eh mak.”
“Rian panggil aja ibu ya.”
“Baik bu.”
“Malam minggu tidak enggak ke rumah pacarnya nak Rian?”
“Saya lagi di rumah pacar saya kok. Eh maksud saya calon pacar, karena Rian belum mau menjawab pertanyaan saya.”
“Oh jadi itu masalahnya. Pantas saja belakangan ini Rey kelihatan murung, padahal biasanya selalu semangat. Jadi karena ini toh.”
“Iya bu. Saya udah tanya ke Rey sekitar 2 minggu yang lalu, tapi selalu menolak untuk menjawab dengan alasan yang tidak pernah saya mengerti. Terkadang katanya malu, kadang bilang aenggak mau bermimpi dan entah alasan apa lagi. Saya sendiri tidak mengerti, bu? Maaf kalau saya terlalu terus terang.”
“Tidak apa-apa. Ibu malah senang. Semua ini mungkin karena kesalahan ibu ke Rey. Rey sering cerita tentang nak Rian ke ibu, dan perasaannya terdapat nak Rian juga. Tapi ibu selalu menasehati Rey untuk tidak terlalu berharap akan segal impian yang dia punya untuk Rian. Ibu bilang ke Rey bahwa antara Rey dan Rian terlalu banyak perbedaan, dan dengan latar belakang keluarga yang berbeda pula. Mungkin itu sebabnya Rey tidak bisa menjawab pertanyaan dari nak Rian. Maafkan ibu Rian. Semua ini ibu lakukan hanya karena ibu tidak ingin melihat Rey kecewa akhirnya nanti.”
“Rian mengerti bu! Tapi rian serius dengan Rey, dan kalau boleh Rian ingin melamar Rey setelah ujian nanti.”
“Tapi Rian belum tau banyak tentang Rey. Rey hanya anak seorang penjual gorengan. Rey itu bukan siapa-siapa.”
“Rian dah tau banyak tentang Rey. Dari siapa Rey, bagaimana Rey, bagaimana keluarganya, dan yang lainnya tentang Rey.”
“Iya, tapi Rey bukan gadis yang sesederhana itu. Rey punya masa lalu yang sangat berbeda dari anak yang lain. Dia itu .....bukan......bukan......”
“Bukan anak kandung ibu kan?”
“Darimana kamu tau tentang hal itu?”
“Rian tau segalanya tentang hal itu. Rian juga tau kalau Rey sudah ibu adopsi sejak kecil, dan Rey baru tau tentang hak ini ketika Rey baru masuk kuliahkan? Rian tau semua bu.”
“Iya, tapi dari siapa dan bagaimana kamu bisa tau?”
“Dari Wulan, sahabat baik Rey dan juga adik sepupu Rian. Sebenarnya sejak pertama kali masuk kuliah, Rian uda jatuh hati ke Rey, tapi Rian sembunyikan. Lalu ketika Wulan bilang bahwa Rey adalah teman baiknya, saya meminta Wulan untuk menceritakan segala seluk-beluk kehidupan Rey. Maaf bu kalau apa yang Rian lakukan ini salah. Tapi Rian lakukan semua ini karena Rian sungguh-sungguh sayang Rey. Rian tidak main-main. Karena itu pula malam ini saya datang kemari.”

Kejadian malam itu telah merubah hidup ku selamanya. Sekarang aku dan Rian telah resmi berpacaran. Wulan juga sudah meminta maaf karena harus membocorkan rahasia besarku ke ‘mas Rian’, panggilan sayangku untuk Rian.Aku dan mas Rian juga sudah menyelesaikan kuliah kami dan berhasil meraih gelar sarjana. Seperti janjinya, mas Rian benar-benar melamar ku malam itu. Malam minggu, 27 April 2005 kami resmi bertunangan dan akan menikah 3 bulan ke depan

Matahari minggu itu begitu indah. Seindah hatiku uang sedang berbunga. Kupeluk mamak dengan erat, tanda kami saling berbagi kebahagiannya.

0 komentar:

Template by : x-template.blogspot.com