Cinta dan logika, keduanya memang sama penting. Ketika salah satunya berat sebelah, masalah pun datang.
Anda mungkin tidak bisa memilih, kepada siapa anda akan jatuh cinta. Saat perasaan itu datang menyelinap, logika sering kali tertutup oleh letupan cinta. Padahal, dalam menentukan pasangan hidup, bukan hanya perasaan yang berhak bicara. Begitu banyak pertimbangan yang perlu dilakukan, sebelum memutuskan mengikat diri dengan seseorang.
Nah, jika anda harus memilih pasangan berdasarkan cinta atau logika, mana yang menjadi prioritas anda? Ikuti kuis berikut ini:
1. Tipe pria yang menarik hati anda :
a. Pria liar yang sulit ditaklukkan. Ada kepuasan tersendiri saat dia akhirnya mau menjalin asmara dengan anda
b. Pria dewasa yang memiliki karier mapan. Kestabilan adalah hal yang paling anda butuhkan
c. Pria yang menerima anda apa adanya. Bersama dia, anda tak perlu berpura-pura menjadi orang lain.
2. Sahabat kerap mengingatkan anda atas perilaku kekasih. Menurutnya, kekasih anda suka main mata dengan wanita lain. Reaksi anda?
a. Kesal pada sahabat. Dia hanya iri melihat kemesraan anda berdua. Sikap kekasih di depan anda selalu baik, kok!
b. Menanyakan kecurigaan itu kepada kekasih. Setelah mendengar jawabannya, barulah anda bisa menentukan sikap.
c. Memutuskan hubungan. Sebagai orang yang paling dipercaya, anada yakin betul terhadap penilaian sahabat.
a. Tiga minggu. Jika ada perasaan greget, artinya dialah cinta sejati anda
b. Tiga bulan. Anda perlu mengenal kebiasaan dan sifatnya dulu.
c. Tiga tahun. Anda perlu yakin betul bahwa dia bisa memberikan semua yang anda butuhkan.
a. Menangis dan larut dalam kesedihan. Rasanya tak percaya, pria yang anda cintai ternyata memiliki masalah berat
b. Berusaha memberi dukungan dan setia berada di sampingnya. Yang penting dia mau berusaha melepaskan diri dari ketergantungan itu.
c. Berpikir dua kali untuk melanjutkan hubungan. Siapa yang berani menanggung risiko jika suatu saat ia kambuh lagi?
a. Cinta yang begitu menggebu-gebu dan membuat anda mampu menghadapi masalah apapun
b. Cinta yang timbul seiring dengan proses waktu, dan saling menerima kelebihan serta kekurangan masing-masing
c. Cinta yang sanggup membuat anda merasa nyaman dan terlindungi
a. Meneruskan hubungan. Yang penting, anda saling mencintai. Toh, pekerjaan bisa dicari kemudian
b. Tetap berhubungan, sambil mencoba memberi pengertian agar ia segera mencari pekerjaan. Tanpa itu, bagaimana mungkin hubungan berlanjut ke tahap yang lebih serius?
c. Membatasi hubungan sebagai teman, anda memerlukan calon suami yang bisa memberi rasa aman.
a. Membujuknya agar menerima tawaran kedua. Besarnya gaji tidak jadi soal, asalkan anda berdua bisa selalu berdekatan.
b. Menyarankan dia memilih pekerjaan sesuai keinginan. Anda akan mendukung keputusan apapun yang dibuatnya.
c. Mendorongnya untuk menerima tawaran dengan gaji lebih tinggi. Dengan demikian, keadaan financial anda berdua kelak akan lebih terjamin.
a. Demi menyelamatkan harga diri kekasih, anda berbohong bahwa jabatan kekasih lumayan tinggi dan gajinya pun sangat memuaskan.
b. Mengatakan apa adanya. Anda kan tidak jatuh cinta pada pekerjaannya melainkan pada kepribadiannya
c. Terpaksa mengatakan yang sebenarnya, tapi segera menambahkan bahwa keluarganya adalah keluarga terpandang.
a. Memaklumi dan memaafkannya. Itu kan hanya ketika dia sedang emosional. Biasanya, sikapnya selalu manis, kok.
b. Segera memintanya untuk minta maaf. Bertengkar boleh saja, tapi bukan berarti dia boleh berkata seenaknya di depan anda
c. Langsung mengakhiri hubungan. Jika dia bisa berkata kasar satu kali saja, tentu dia akan mengulanginya. Anda tak mau berhubungan dengan pria kasar.
a. Soal jodoh, anda percaya pada kata hati. Jika memang sudah sreg, anda tak akan melepaskannya.
b. Mengenal seseorang perlu melalui proses. Saat itulah anda bisa menentukan apakah kekasih anda adalah pasangan hidup yang tepat atau bukan.
c. Calon suami harus sesuai dengan kriteria yang telah anda tentukan. Cinta? Itu, sih, bisa muncul belakangan.
HASIL :
MAYORITAS A : YANG PENTING CINTA
Anda tipe wanita romantis yang menempatkan cinta di atas segalanya. Bagi anda, segala masalah hidup dapat diatasi bersama, asalkan ada cinta. Anda juga kerap menjadikan kesan pertama sebagai landasan dalam memilih kekasih. Bahayanya, anda sering kali hanya mau melihat sisi baik kekasih, sehingga jarang melihat kenyataan yang ada secara obyektif.
Sifat-sifat kekasih yang sebenarnya tidak cocok dengan kepribadian anda, menjadi tidak penting lagi. Di mata anda, kekasih adalah sosok pria ideal. Karena itu, anda cenderung selalu menuruti permintaannya, tanpa memedulikan keinginan anda sendiri. Hati-hati, lho, ketika nanti cinta mulai menyurut, anda bisa kehilangan diri sendiri. Karena itu, mulailah menghargai diri sendiri. Anda bisa, kok, mendapatkan kekasih tanpa harus mengorbankan kepribadian anda.
MAYORITAS B : CINTA SAJA TAK CUKUP
Anda cukup realistis dalam memandang cinta. Bagi anda, modal cinta saja dalam sebuah hubungan asmara tidak cukup. Tapi bukan berarti anda lantas mengorbankan perasaan hanya demi uang dan kemapanan. Jika memang tidak ada rasa suka, anda tak akan bisa membohongi diri sendiri untuk berpura-pura mencintainya.
Mencintai berarti bersedia menerima keadaan kekasih seutuhnya, termasuk kelebihan dan kekurangannya. Karena itu, keterbukaan merupakan hal mutlak bagi anda. Selama ada kemauan darinya untuk memperbaiki kekurangan, anda tak ragu untuk mempertahankan hubungan.
MAYORITAS C : ANDA TERLALU BERHITUNG
Kriteria anda dalam memilih kekasih begitu tinggi. Positifnya, anda tidak mudah terjebak rayuan gombal. Anda yakin bahwa cinta saja tidak bisa menghadapi kebutuhan keluarga. Bagi anda, dalam memilih pasangan hidup yang utama adalah 3B (bibit, bebet, bobot). Kalaupun tidak ada ketertarikan, anda yakin perasaan cinta bisa muncul belakangan, karena anda percaya bahwa perasaan bisa dikendalikan.
Anda selalu berpikir soal benar dan salah dalam menjalani hubungan. Anda lebih memilih memutuskan hubungan dan mencari penggantinya. Cobalah untuk lebih fleksibel dalam bersikap. Kelak anda akan menyadari, tidak ada manusia yang sempurna, termasuk diri anda sendiri. Tak ada salahnya memberi peluang pada pria yang ‘biasa-biasa’ saja. Siapa tahu justru dialah yang bisa membuat anda bahagia.
PENDAPAT AHLI : JUJURLAH PADA DIRI SENDIRI
Dalam hubungan yang sehat, peran cinta dan logika seharusnya berjalan seimbang.
Saat anda hanya menuruti perasaan, unsur yang dominan adalah gairah sesaat yang membuat anda terlena pada sosok ideal pasangan, dan membutakan diri terhadap kondisi dia yang sebenarnya. Akhirnya, setiap kali menemukan masalah dan ketidakcocokan, anda cenderung kecewa berlebihan. Ini karena anda sulit menerima kenyataan bahwa cinta tidak selamanya bisa menjadi solusi masalah.
Namun, terlalu mengandalkan logika tanpa melibatkan perasaan, juga bukan jalan keluar yang bijaksana. Karena anda berarti harus berpura-pura mencintai seseorang. Jadi, ketika menemukan kendala, dengan mudah anda akan mencari orang lain. Hal ini bisa terjadi karena kebutuhan emosi anda tidak dapat dipenuhi oleh kekasih. Anda yang terlalu mengutamakan logika juga cenderung berusaha mengendalikan perasaan. Akibatnya, sulit bagi anda untuk membuka diri seutuhnya. Padahal cinta tidak hanya membutuhkan gairah dan komitmen, tapi perlu juga ada kedekatan emosi, yang hanya bisa dicapai melalui keterbukaan.
Setiap kali anda bimbang, apakah kekasih anda pilihan yang tepat, cobalah melakukan introspeksi. Bayangkan kekasih anda tanpa embel-embel status, jabatan maupun unsure fisik dan materi lainnya. Jujurlah pada diri sendiri, apa benar dia pribadi yang anda inginkan? Sering-seringlah melakukan sharing untuk mengetahui karakter asli pasangan. Misalnya, melalui obrolan ringan seputar kebiasaan sehari-hari atau situasi yang kerap dihadapi. Dengan begitu, saat hubungan berlanjut ke pelaminan, anda merasa lebih mantap menjalaninya.
0 komentar:
Posting Komentar